MENGGUNAKAN MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Abstrak: Pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan umat
manusia. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berorientasi meningkatkan kualitas
kehidupan, sebagaimana telah tercantum dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan diarahkan untuk
mengembangkan segenap potensi yang ada pada perseta didik untuk memiliki
kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Melihat perkembangan saat ini, pembelajaran yang menggunakan multimedia sudah menjadi
kebutuhan dan yang tidak menggunakan multimedia dapat ketinggalan zaman. Berkaitan
dengan itu multimedia interaktif dapat digunakan dalam proses pembelajaran
untuk menaikkan minat belajar dari peserta didik.
Kata kunci: multimedia interaktif,
pembelajaran.
Pendahuluan
COVID-19 telah menjadi pademi, sehingga
pemerintah di berbagai negara telah menerapkan lockdown
atau karantina. Pengertian karantina menurut UU Republik Indonesia Nomor 6
tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan adalah pembatasan kegiatan dan/atau
pemisahan seseorang yang terpapar penyakit menular sebagaimana ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan meskipun belum menunjukkan gejala apapun untuk
mencegah kemungkinan penyebaran ke orang di sekitarnya (UU No 6 tahun 2018).
Pemerintah Indonesia telah menghimbau untuk tetap
di dalam rumah dan mengisolasi diri. Pemerintah Indonesia menerapkan aturan
PSBB yang merupakan singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar yang dibuat
dalam rangka Penanganan COVID-19. Hal ini dilakukan dengan harapan virus tidak
menyebar lebih luas dan upaya penyembuhan dapat berjalan maksimal. Dalam usaha
pembatasan sosial ini pemerintah indonesia telah membatas kegiatan diluar rumah
seperti kegiatan pendidikan yang telah dilakukan secara online melalui
pembelajaran online.
Pembelajaran online dilakukan dengan memanfaatkan
teknologi khususnya internet. Pembelajaran online
dilakukan dengan sistem belajar jarak jauh, dimana Kegiatan Belajar dan
Mengajar (KBM) tidak dilakukan secara tatap muka. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan
media, baik media cetak (modul) maupun non cetak (audio/video),
komputer/internet, siaran radio dan televisi.
Pada pembelajaran online, peserta didik dapat
menjadi kurang aktif dalam menyampaikan aspirasi dan pemikirannya, sehingga
dapat mengakibatkan pembelajaran yang menjenuhkan. Seorang siswa yang mengalami
kejenuhan dalam belajar akan memperoleh ketidakmajuan dalam hasil belajar. Oleh
karena itu, diperlukan pendorong untuk menggerakkan siswa agar semangat belajar
sehingga dapat memiliki prestasi belajar.
Semangat belajar dapat dimiliki dengan meningkatkan motivasi belajar.
Motivasi belajar adalah sebuah penggerak atau pendorong yang membuat seseorang
akan tertarik kepada belajar sehingga akan belajar secara terus-menerus.
Motivasi yang rendah dapat menyebabkan rendahnya
keberhasilan dalam belajar sehingga akan merendahkan prestasi belajar siswa.
Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini akan membahas mengenai bagaimana
cara meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran online akibat
pandemi COVID-19.
PEMBAHASAN
A.
Tinjauan
tentang Multimedia
1.
Pengertian Media
Menurut Romiszowski (Basuki
Wibawa dan Farida Mukti, 1991: 8) berpendapat bahwa media ialah pembawa pesan
yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda)
kepada penerima pesan. Dalam proses pembelajaran penerima pesan itu ialah
siswa. Adapun menurut Arief S. Sadiman (2006: 7) menjelaskan bahwa media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat
siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaian pesan dalam proses
pembelajaran yang dimasudkan untuk mempermudah, dan mempercepat komunikasi
antara guru dan siswa sehingga proses permbelajaran berlangsung baik. Siswa
dirangsang menggunakan inderanya untuk menerima informasi melalui media
tersebut. Dewasa ini siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa
indera supaya dapat menerima pesan itu lebih lengkap.
2.
Pengertian Multimedia
Multimedia berdasarkan
etimologi terdiri dari multi dan media. Multi berarti beragam sedangkan media
berarti sarana/alat (tool) yang digunakan.
Menurut Hackbarth (Winarno
dkk. 2006: 6) Multimedia diartikan
sebagai suatu penggunaan gabungan beberapa media dalam menyampaikan informasi yang berupa
teks, grafis atau animasi grafis, movie, video dan audio. Sependapat dengan
pengertian tersebut Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto (2013: 46) menjelaskan
bahwa multimedia adalah alat bantu penyampaian pesan dalam proses pembelajaran
dengan menggabungkan dua elemen atau lebih media, meliputi teks, gambar,
grafik, foto, suara, video, animasi, dan film secara terintegrasi. Philip
(Winarno dkk. 2009: 8) menyatakan the
multimedia component is characterized by the presence of text, pichture, sound,
animation, dan video, some or all of which are organized into some coherent
progam.
Multimedia adalah gabungan
dari teks seni, suara, animasi, video, beberapa komponen tersebut atau seluruh
komponen tersebut dimasukkan dalam progam yang koheren. Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud dengan multimedia
adalah suatu gabungan antara teks, gambar, grafis, animasi, audio, video
yang dapat dikreasikan sedemikian rupa sehingga dapat menampilkan sajian yang
menarik bagi siswa. Sajian tampilan yang menarik bagi siswa tersebut dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Multimedia menggabungkan beberapa media
yang kemudian dioperasikan dalam suatu progam
pembelajaran.
3.
Multimedia interaktif
Multimedia interaktif adalah media yang menggabungkan teks, grafik, video, animasi dan
suara. Untuk menyampaikan suatu pesan dan informasi, melalui media
elektronik seperti komputer dan perangkat elektronik lainnya.
Menurut
Robin dan Linda (seperti dikutip Benardo, 2011) Multimedia interaktif adalah
alat yang dapat menciptakan persentasi yang dinamis dan interaktif, yang
mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan gambar video. Menurut
Hofstetter (seperti dikutip Benardo, 2011) Multimedia interaktif adalah
pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio,
gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang
memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berintraksi, berkreasi dan
berkomunikasi.
4.
Manfaat Multimedia Pembelajaran
Apabila
multimedia pembelajaran dipilih, dikembangkan, dan digunakan secara tepat dan
baik, akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi para guru dan siswa.
Menurut Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto (2013: 69) multimedia memiliki
manfaat bagi guru maupun siswa antara lain sebagai berikut:
a.
Proses pembelajaran lebih menarik,
b.
Interaktif,
c.
Jumlah waktu mengajar dapat dikurangi,
d.
Kualitas pembelajaran dapat
dilakukan kapan dan dimana saja, dan
e.
Sikap belajar pebelajar dapat ditingkatkan.
Kemp and Dayton (Winarno
dkk, 2009: 3) menjelaskan bahwa terdapat manfaat
penggunaan multimedia dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut:
a.
Penyampaian pesan lebih baku
b.
Menjadikan proses pembelajaran
lebih menarik
c.
Menjadikan proses pembelajaran
lebih intertaktif
d.
Mengurangi jumlah waktu pembelajaran
e.
Meningkatkan kualitas belajar siswa
f.
Pembelajaran dapat diberikan
kapanpun dan dimana pun terutama dalam multimedia pembelajaran dirancang untuk penggunaansecara individual
g.
Sikap positif siswa tentang pa
yang mereka pelajari
h.
Peran guru dapat berubah kearah
yang lebih positif, beban guru untuk menjelaskan secara berulang-ulang isi
dalam pembelajaran dapat diminimalisir sehingga dapat memusatkan kepada aspek
penting lain dalam pembelajaran.
5.
Kelebihan Multimedia Pembelajaran
Menurut Yudi Muhadi (2013: 150-151) menyebutkan
beberapa kelebihan dari multimedia presentasi ini, yakni:
a.
Memiliki kemampuan dalam
menggabungkan semua unsur media seperti teks,
video, animasi, images, grafik, dan sound menjadi satu kesatuan penyajian yang
terintegrasi
b.
Memiliki kemampuan dalam
mengakomodasi peserta didik sesuai dengan modalitas belajarnya, terutama mereka
yang mempunyai tipe visual, auditif, kinestetik atau yang lainnya.
c.
Mampu mengembangkan materi
pembelajaran terutama membaca dan mendengarkan secara mudah.
d.
Mampu menampilkan objek-objek
yang sebenarnya tidak ada secara fisik atau diistilahkan dengan imagery. Secara kognitif pembelajaran
dengan menggunakan mental imagery akan
meningkatkan retensi siswa dalam meningkatkan materi-materi pelajaran.
Menurut Daryanto (2013: 52)
menyebutkan beberapa keunggulan dari sebuah multimedia pembelajaran, yakni:
a.
Memperbesar benda yang sangat
kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron dan
lain-lain.
b.
Memperkecil benda yang sangat
besar yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah seperti gajah, rumah, gunung,
dan lain-lain.
c.
Menyajikan benda atau peristiwa
yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh
manusia, bekerjanya suatu mesin, berdarnya planet Mars dan lain-lain.
d.
Menyajikan benda atau peristiwa
yang jauh, seperti bulan, bintang, salju, dan
lain-lain.
e.
Menyajikan benda atau peristiwa
yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun, dan lain-lain.
f.
Meningkatkan daya tarik dan
perhatian siswa.
Berdasarkan Dina Indriana
(2011: 97-98) menjelaskan beberapa teori tentang kelebihan dari multimedia
dalam proses pembelajaran:
a. Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan multimedia, informasi atau
materi pengajaran melalui teks dapat diingat dengan baik jika disertasi dengan
gambar. Hal ini bagaimana dijelaskan dalam teori dual coding theory. Menurut teori ini, sistem kognitif manusia
terdiri atas dua subsistem, yaitu sistem verbal dan sostem gambar (visual).
Jadi, adanya gambar dan teks dapat meningkatkan memori karena adanya dual
coding dalam memori.
b. Menurut teori quantum learning, siswa memiliki modalitas belajar yang
dibedakan menjadi tiga tipe yaitu visual, auditif, dan kinestetik. Keberagaman
modalitas belajar ini dapat diatasi dengan menggunakan perangkat media sistem
multimedia. Sebab, masing-masing siswa yang berbeda tipe belajarnya tersebut
dapat diwakili oleh multimedia. Karena itu, multimedia sangatlah universal
mengadaptasi gaya belajar siswa yang berbeda-beda.
6.
Macam-macam Multimedia Pembelajaran
Menurut Daryanto (2010: 51)
menyebutkan multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier
dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak
dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna.
Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan). Contohnya: TV dan film,
Multimedia interaktif adalah suatu mulltimedia yang dilengkapi dengan alat
pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat
memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya, contoh multimedia
interaktif adalah pembelajaran interaktif, aplikasi game, dan lain-lain.
Berdasarkan macam-macam multimedia maka dalam penelitian ini digunakan
multimedia interaktif.
7.
Objek-objek Multimedia
pembelajaran
Cara membuat presentasi yang
baik supaya menarik perhatian siswa, dapat menggunakan beberapa obyek media
berikut ini:
a.
Teks
Teks merupakan tampilan yang
berupa tulisan. Teks berfungsi untuk menyajikan materi menjadi lebih menarik
dengan menggunakan berbagai
macam font dan pilihan warna yang dapat memancing perhatian siswa untuk memperhatikan pelajaran.
b.
Gambar
Gambar adalah media yang
paling umum dipakai dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa lebih
menyukai gambar dari pada tulisan, apalagi gambar dibuat dan disajikan sesuai
dengan persyaratan yang baik, pemilihan gambar dengan kualiatas bagus akan
menjadi daya tarik tersendiri dan tentunya akan menambahkan semangat siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran.
c.
Video
Dalam media video terdapat dua
unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio merangsang
siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui indera pendengaran,
sedangkan unsur visual dapat menciptakan pesan belajar melalui bentuk
visualisasai.
d.
Hyperlink
Hyperlink
dalam softwere powerpoint diartikan sebagai media presentasi yang dapat
menghubungkan sebuah file yang berbeda atau menghubungkan banyak slide-slide
pada satu file powerpoint. Penggunaan hyperlink memberikan kemudahan mencari
file atau slide yang kita ingin lihat. Selain itu hyperlink mampu memberikan
kesempatan kepada siswa unutk mengontrol kecepatanya belajarnya sendiri
(Daryanto, 2010: 53). Dalam proses pembelajaran siswa dapat memilih
sendiri materi yang ingin dipelajari
berdasarkan link yang telah dibuat pada powerpoint.
B.
Tinjauan
tentang Minat Belajar
1.
Pengertian
Minat
Sebelum kita mengetahui minat
belajar maka kita harus mengetahui pengertian minat dan belajar. Kata minat
secara etimologi berasal dari bahasa inggris “ interest” yang berarti kesukaan,
perhatian (kecenderungan hati pada sesuatu), keinginan. Jadi dalam proses
belajar siswa harus mempunyai minat atau kesukaan untuk mengikuti kegiatan
belajar yang berlangsung, karena dengan adanya minat akan mendorong siswa untuk
menunjukan perhatian, aktivitasnya dan partisipasinya dalam mengikuti belajar yang
berlangsung. Menurut Ahmadi (2009: 148) “Minat adalah sikap jiwa orang seorang
termasuk ketiga fungsi jiwanya (kognisi, konasi, dan emosi), yang tertuju pada
sesuatu dan dalam hubungan itu unsur perasaan yang kuat”.
Menurut Slameto (2003:180),
“minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa kegiatan”. Sedangkan menurut Djaali (2008: 121) “minat adalah rasa
lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang
menyuruh”. Sedangkan menurut Crow&crow (dalam Djaali, 2008: 121) mengatakan
bahwa “minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk
menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang
dirangsang oleh kegiatan itu sendiri”.
Dari beberapa pendapat para ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian minat adalah rasa ketertarikan,
perhatian, keinginan lebih yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal, tanpa
ada dorongan.
2.
Pengertian belajar
Skinner (Dimyati dan Mujiono,
2006: 9) berpendapat bahwa belajar ialah suatu perilaku, dalam arti pada
belajar maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar
maka responsnya menurun. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku
sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif
konstan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa belajar
adalah suatu proses berubahnya tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Belajar yaitu proses kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung
seumur hidup, sejak bayi (bahkan dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah
satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan
tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut
perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik)
maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Eveline Siregar dan Hartini
Nara, 2010: 2).
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
belajar adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi
dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan
yang berlangsung seumur hidup.
C.
Tinjauan Mengenai Pendidikan Agama
Kristen
Pendidikan Agama
Kristen (PAK) atau Pendidikan Kristiani atau juga sering disebut Pendidikan
Kristen, umumnya dipandang sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum
pendidikan nasional yang diajarkan di sekolah secara formal, namun sebenarnya
PAK justru dimulai dari keluarga dan gereja. Hal tersebut dijelaskan oleh
Marpaung bahwa pendidikan Kristen sering menggunakan istilah PAK merupakan
salah satu bidang ilmu yang dipelajari di sekolah yang memberi kesan bahwa
pendidikan merupakan tugas dari sekolah, bukan gereja. Namun sebenarnya
pendidikan Kristen dimulai dari keluarga dalam lingkup kecil dan gereja untuk
lingkup yang lebih besar. PAK merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan
maksud Allah kepada dunia.[1]
Harianto mengemukakan bahwa PAK adalah usaha
sadar dan terencana untuk meletakkan dasar pertumbuhan iman dalam Yesus Kristus
dengan cara mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran kondusif agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, yaitu melandaskan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya dan masyarakat.[2] Jadi, dapat disimpulkan
Pendidikan Agama Kristen sesungguhnya sudah memiliki tempat yang penting dalam
dinamika perkembangan komunitas Kristen.
Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama
Kristen memiliki suatu tujuan yang jelas dan nyata yaitu untuk menjalankan misi
Tuhan Yesus di muka bumi yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid
Tuhan Yesus dan semua manusia mengalami hidupnya sebagai respon terhadap
Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus, serta menumbuhkan dan mengembangkan iman
serta kemampuan peserta didik untuk dapat memahami dan menghayati kasih Allah
dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Persekutuan Gereja-Gereja di
Indonesia (PGI), PAK bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi/kemampuan
anak didik, baik anak-anak maupun dewasa, kepada ketaatan dan pengabdian kepada
Allah dan Firman-Nya sesuai dengan ajaran agama Kristen yang berdasar Alkitab.
Ketaatan dan pengabdian dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam
keluarga, sekolah, tempat bekerja, gereja, jemaat maupun di dalam masyarakat
pada umumnya.[3] Sedangkan bagi Luther tujuan
PAK adalah untuk melibatkan semua warga gereja, khususnya yang muda, dalam
rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta
bergembira dalam Firman Yesus Kristus yang memerdekakan mereka disamping
memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa, Firman
tertulis, Alkitab dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani
sesamanya termasuk masyarakat dan negara, serta mengambil bagian secara
bertanggungjawab dalam persekutuan Kristen yaitu Gereja.[4]
Tujuan PAK menurut Brown adalah
berhubungan dengan tujuan hidup orang Kristen bagi Tuhan dalam kemuliaan-Nya,
sebagai sarana yang digunakan oleh Roh Kudus untuk membawa murid kepada
persekutuan dengan Allah, bagi hidup dalam kekekalan, untuk pengembangan
pemikiran dalam perspektif Kristen dan untuk melatih mereka dalam kehidupan yang
taat sehingga mereka dapat memenuhi tujuan Tuhan bagi keseluruhan hidup.[5] Dengan adanya dasar dan tujuan pembelajaran
PAK dengan jelas anak didik akan mengalami perubahan signifikan dalam
pertumbuhan spritualnya.
[1]Agus Marulitua Marpaung, Gereja yang Belajar Kajian Tentang
Pendidikan Kristen dalam Gereja (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2017), h. 16.
[2]Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab dan Dunia Pendidikan Masa Kini (Yogyakarta:
Penerbit ANDI, 2012), h. 52.
[3] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari
Plato sampai Ignatius Loyola, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), h. 111.
[4]Marthin Luther di dalam Ibid., h. 342.
[5]Gordon Brown di dalam Khoe Yao Tung, Filsafat Pendidikan Kristen Meletakkan
Fondasi dan Filosofi Pendidikan Kristen d Tengah Tantangan Filsafat Dunia (Yogyakarta:
Penerbit ANDI, 2013), h. 263.



